Pengetahuan

Bukittinggi, Nagari Kurai nan Kosmopolitan

×

Bukittinggi, Nagari Kurai nan Kosmopolitan

Share this article

JIKA menyebut nama , maka benak kita akan langsung menghantarkan pada sebuah bangunan monumental yang dikenal dengan nama .

Selain itu camilan sanjai yang menggoda, Benteng Fort De Kock nan mempesona selain lukisan alam tiada tara bernama Ngarai Sianok serta Lubang Jepang yang selalu saja menarik untuk didatangi dan tentunya Taman Marga Satwa Kinantan

Ya, Bukittinggi adalah sebuah kota Kosmopolitan di daerah Darek yang selalu disebut sebagai .

Dalam Sejarah Sosial Daerah Sumatera Barat (1983) yang disusun Dr. Taufik Abdullah dkk, sebelum menjadi kota, Bukittinggi merupakan sebuah nagari yang bernama .

Secara adat, Nagari Kurai berada di bawah satu payung dengan nagar-nagari sekitarnya seperti Nagari Banuhampu, Nagari Sianok dan Nagari Koto Gadang.

Dilansir dari laman Kementerian Agama Sumatera Barat, berdirinya diawali dengan adanya sebuah pasar yang berdiri serta dikelola oleh penghulu Nagari Kurai.

Orang Minangkabau biasa menyebutnya sebagai pakan, di mana pakan ini hanya buka pada hari Sabtu saja.

Dari sebuah pakan yang sepi dan lama-kelamaan pengunjung yang datang semakin ramai, pada akhirnya pakan ini dibuka juga pada hari Rabu.

Pakan di negeri Kurai tersebut terletak di perbukitan yang tinggi sehingga disebut Bukittinggi.

Seiring berjalannya waktu, pakan itu kemudian berubah nama menjadi Pasar Ateh, sementara sebutan Bukittinggi menjadi julukan untuk negeri Kurai.

Sumber lain menyebutkan bahwa pasar itu diberi nama Bukik Kubangan kabau, namun setelah terjadi pertemuan adat Suku Kurai yang kemudian mengganti nama menjadi Bukik Nan Tatinggi.

Nama tersebut kemudian menjadi Bukittinggi, sedangkan nama pasar di Kurai menjadi Pasar Bukittinggi.

Hingga akhirnya pada 1823, Belanda datang ke Dataran Tinggi Agam di saat Pasar Bukittinggi ini sudah ramai didatangi oleh penduduk.

Dilansir dari laman Pemerintahan Kota Bukittinggi, pada masa penjajahan Belanda, Bukittinggi berstatus sebagai sebagai Gemetelyk Resort berdasarkan Staatsblad tahun 1828.

Setelah pembangunan benteng Staatsblad oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek, kota ini kemudian dikenal dengan nama Gemeente Fort De Kock.

Pada tahun 1833 terjadi perjanjian Plakat Panjang yang pada akhirnya menghasilkan perjanjian bahwa Nagari Kurai menjadi pusat kegiatan Ekonomi Fort de Kock.

Statusnya kemudian naik menjadi Staad Gemeente Fort De Kock, sebagaimana diatur dalam Staatsblad No. 358 tahun 1938 dengan luas wilayah sama dengan wilayah Kota Bukittinggi sekarang.

Kota ini juga digunakan oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya.

Kemudian pada masa penjajahan Jepang, kota ini bernama Bukittinggi Shi Yaku Sho, dimana daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba dan Bukit Batabuah yang sekarang berada dalam wilayah .