Pengetahuan

Lebih Dekat dengan Bukittinggi, Si Mungil dengan Sejarah Panjang Republik Indonesia

×

Lebih Dekat dengan Bukittinggi, Si Mungil dengan Sejarah Panjang Republik Indonesia

Share this article

SETIAP kali bicara tentang ibukota negara, maka nama yang selalu muncul hanyalah Jakarta dan Jogjakarta.

Tak banyak yang tahu, apalagi mengenal secara detail kalau Sumatera Barat atau tepatnya Kota , pernah juga menjadi titik sentral perjuangan masyarakat Indonesia.

Kota mungil dan sejuk ini dengan luas kurang lebih 25 km2 di Sumatera Barat pernah menjadi ibukota Indonesia menggantikan Yogyakarta.

Dimana Kota mungil di Sumatera Barat ini punya sejarah yang cukup panjang karena telah lahir sejak 22 Desember 1784.

Ibukota Indonesia pernah berpindah ke Sumatera Barat karena kondisi darurat pasca kemerdekaan Indonesia.

Yogyakarta sebagai ibukota negara pada saat itu diserang oleh tentara Belanda hingga kondisi menjadi darurat.

Apalagi Soekarno dan Moh Hatta selaku presiden dan wakilnya tengah ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Bangka.

Alhasil untuk kepentingan bangsa, ibukota Indonesia dipindah ke di Sumatera Barat.

Karena presiden dan wakilnya ditangkap sehingga tonggak kepemimpinan sementara diserahkan pada Sjafruddin Prawiranegara.

Pada saat itu Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai Menteri Republik Indonesia.

Diketahui, ibukota Indonesia secara darurat dipindah ke Sumatera Barat pada Desember 1948.

Kemudian situasi aman, status ibukota Indonesia dipindahkan kembali ke Yogyakarta pada Juli 1949.

awalnya merupakan kawasan dari Sumatera Tengah sebelum adanya Sumatera Barat.

Hal tersebut tertuang dalam Undang-undang No. 4 tahun 1959 sebelum Sumatera Barat menjadi provinsi.

Setelah Provinsi Sumatera Barat terbentuk, Kota Bukittinggi kembali dipilih sebagai ibukota sebelum berpindah ke Padang.

Kota Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Kota mungil ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah.

Kota ini pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra.

Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia.

Di antaranya adalah dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.

Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang.

Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi oleh dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan .

Lokasinya pada ketinggian 909–941 mdpl menjadikan Bukittinggi kota berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C.

Luas Bukittinggi secara de jure adalah 145,29 km², mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 84 tahun 1999.

Namun, karena penolakan sebagian masyarakat , luas wilayah secara de facto saat ini adalah 25,24 km², yang menjadikan Bukittinggi sebagai salah satu kota dengan wilayah tersempit di Indonesia.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra.