Breaking News

Boikot Israel!

×

Boikot Israel!

Share this article

SEJAK melakukan serangan brutal ke Jalur dengan dalih membalas pada 7 Oktober lalu, -aksi unjuk rasa digelar diberbagai belahan dunia. Israel semakin hari semakin kehilangan muka di mata mayoritas warga dunia.

Agresi yang dilakukan Israel kepada Palestina pada 2023 ini, boleh dikatakan salah satu yang paling kejam yang pernah ada di muka bumi. Hingga Senin (18/12), sedikitnya 19 ribu warga Gaza dan jadi korban, Sebagian besar diantaranya anak-anak dan .

yang dilakukan Israel tersebut mendapatkan perlawanan dari Jakarta hingga San Francisco. Ratusan ribu orang turun ke jalan selama dua bulan terakhir untuk memprotes yang sedang berlangsung di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 19 ribu orang.

Berdasarkan data dari sebuah organisasi non-pemerintah yang menangani pengumpulan data konflik sejak 7 Oktober hingga 24 November 2023, sebanyak 7.283 aksi protes pro-Palestina terjadi di lebih dari 118 negara dan wilayah. Selain aksi protes, banyak pula yang memilih untuk menyampaikan kecamannya dengan melakukan aksi boikot produk dan layanan yang mendukung Israel.

Aksi boikot produk ini melahirkan gerakan boikot, divestasi dan sanksi (BDS), yang didukung oleh koalisi kelompok masyarakat sipil Palestina pada 2005 lalu. Gerakan ini berupaya untuk menantang dukungan internasional terhadap apa yang mereka sebut sebagai apartheid Israel dan kolonialisme pemukim di mana penjajah menggantikan komunitas Pribumi dan menjunjung tinggi prinsip bahwa “Warga Palestina berhak atas hak yang sama seperti umat manusia lainnya.”

Perlawanan terhadap Israel juga diserukan para mahasiswa Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat (AS). Pada 12 Oktober 2023, ratusan mahasiswa melakukan unjuk rasa menentang tindakan Israel yang melakukan pemboman di Gaza, Palestina.

“Sebagai mahasiswa di Columbia yang memiliki kekuatan global yang begitu besar, saya merasa perlu untuk bertindak. Dan juga, menurut saya isu ini (penjajahan Israel kepada Palestina) adalah salah satu yang menghubungkan banyak isu lain di mana kita melihat kekerasan polisi, kolonialisme pemukim, isu-isu ini juga sangat penting di Amerika,” kata Daria Mateescu seorang mahasiswa hukum di Universitas Columbia dikutip Aljazirah, Senin (18/12/2023).

Mateescu (25) adalah generasi pertama Amerika keturunan Rumania yang memimpin kelompok mahasiswa Apartheid Divest Universitas Columbia, sebuah koalisi yang terdiri dari sekitar 80 organisasi mahasiswa yang melihat Palestina sebagai garda depan pembebasan kolektif kaum marjinal.

Menurutnya, selama ini kampusnya tersebut tidak mendengarkan suara mahasiswa yang menyerukan divestasi Columbia di Tel Aviv, yang tidak dapat dihadiri oleh warga Palestina dan Arab. Selain protes di dalam dan di luar kampus, anggota komunitas juga membuat pilihan konsumen terkait dengan apa yang mereka yakini.

“Orang-orang sangat menghormati boikot yang ditargetkan terhadap tempat-tempat seperti McDonald's atau . Kami tidak membeli dari tempat-tempat ini. Sungguh luar biasa mendengarnya,” katanya kepada Aljazirah.