Headline

Jika Server KPU Diretas, Demokrasi Terancam

×

Jika Server KPU Diretas, Demokrasi Terancam

Share this article

BuliranNews, SEMARANG – Pakar keamanan siber Pratama Persadha memandang perlu melakukan audit dan forensik terhadap sistem keamanan serta server Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sehubungan dengan dugaan 204 juta data daftar pemilih tetap (DPT) bocor, kemudian peretas menjual data tersebut.

“Masih perlu audit dan forensik terhadap sistem dan ini guna memastikan titik serangan peretas untuk mendapatkan yang diklaim berasal dari website KPU tersebut,” kata Pratama Persadha seperti dikutip dari laman Antara.

Menurut Pratama, jika peretas Jimbo benar-benar berhasil mendapatkan kredensial dengan role admin, hal ini tentu saja sangat berbahaya pada karena bisa saja akun dengan role admin tersebut untuk mengubah hasil rekapitulasi penghitungan suara.

“Ini tentunya akan mencederai , bahkan bisa menimbulkan kericuhan pada skala nasional,” kata Pratama yang juga Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC.

Sampai saat ini, kata Pratama, belum ada tanggapan resmi dari terkait dengan kebocoran data pemilih di forum BreachForums.

Sambil melakukan investigasi, lanjut dia, ada baiknya tim IT KPU melakukan perubahan username dan password dari seluruh akun yang memiliki akses ke sistem KPU tersebut sehingga bisa mencegah user yang semula didapatkan oleh peretas supaya tidak dapat dipergunakan kembali.

Pratama mengemukakan hal itu terkait dengan klaim seorang peretas dengan nama anonim Jimbo yang meretas situs kpu.go.id dan mendapatkan data pemilih dari situs tersebut.

Sebelumnya, pada tahun 2022 peretas Bjorka juga mengklaim mendapatkan 105 juta data pemilih dari website KPU.

Kali ini akun anonim Jimbo tersebut juga membagikan 500.000 data contoh yang dia dapatkan pada salah satu postingan-nya di situs BreachForums yang biasa untuk menjual hasil peretasan, serta beberapa tangkapan layar dari website https://cekdptonline.kpu.go.id/ untuk memverifikasi kebenaran data yang didapatkan tersebut.