Internasional

Ribuan Perusahaan Global Tinggalkan Rusia

×

Ribuan Perusahaan Global Tinggalkan Rusia

Share this article

BuliranNews, MOSKOW – Sungguh mengejutkan, ternyata sebagian besar warga tidak mengetahui banyak informasi tentang kondisi di negara tetangga Ukraina yang sedang berperang. Mereka hanya sadar beberapa perusahan Barat tidak lagi beroperasi atau memutuskan berganti nama.

Menurut laporan investment monitor yang mengutip makalah terbaru dari Yale School of Management, lebih dari 1.000 melakukan eksodus yang belum pernah terjadi sebelumnya di Rusia.

“Banyaknya sektor swasta yang keluar dari Rusia ini berfungsi untuk memperkuat sanksi hukum pemerintah sebagaimana berfungsi dalam boikot ekonomi lintas sektor yang berhasil sebelumnya,” ujar Profesor Jeffrey Sonnenfeld dari Yale School of Management.

Tapi, Sonnenfeld menyatakan, walau banyak perusahan yang telah keluar, masih ada perusahaan multinasional Barat yang terus melakukan bisnis seperti biasa di Rusia. Dia tidak menjelaskan perusahan-perusahan yang tetap memilih untuk bertahan tersebut.

Hanya saja, perusahan besar pertama yang meninggalkan Rusia tidak lama setelah invasi pada 24 Februari 2022 adalah McDonald's. Perusahan cepat saji ini memilih berganti nama dengan “Vkusno & tochka” atau “Tasty & that's it” yang menjadi kepemilikan Rusia pada Juni tahun lalu.

McDonald's menjual semua restorannya setelah beroperasi di Rusia selama lebih dari 30 tahun. Dengan slogan baru “The name changes, love stays” menunjukan menu-menu restoran ini sama, hanya penampilan luar saja yang berbeda.

Selain McDonald's, gerai kopi Starbuck pun melakukan langkah yang sama. Perusahan ini berubah menggunakan nama Stars Coffee untuk berjualan di Rusia pada Agustus tahun lalu.

mengatakan, perusahaan telah membuat keputusan untuk keluar dan tidak lagi memiliki merek di pasar Rusia meski Stars Coffee memiliki logo dan menu yang memang sama persis. Perusahan kedai kopi yang sudah bertahan hampir 15 tahun di Rusia ini sebelumnya memiliki 130 toko dengan hampir 2.000 karyawan di negara tersebut.

“Hampir tidak ada perusahaan, tidak ada multinasional, yang ingin terjebak di sisi yang salah dari sanksi AS dan Barat,” ujar ekonom dan peneliti senior di Peterson Institute for International Economics Mary Lovely.

Selain industri makanan dan minuman, perusahaan minyak dan gas termasuk di antara perusahaan yang mengumumkan keluar paling cepat dan dramatis. Pada Maret tahun lalu, perusahaan energi BP melepaskan 14 miliar dolar AS sahamnya di perusahaan minyak dan gas milik Rosneft.