Budaya

Lebih Dekat dengan 7 Suku Penguasa Jazirah Arab

×

Lebih Dekat dengan 7 Suku Penguasa Jazirah Arab

Share this article
Lebih Dekat dengan 7 Suku Penguasa Jazirah Arab
Lebih Dekat dengan 7 Suku Penguasa Jazirah Arab

KITA semua tahu, masyarakat Indonesia dikenal dengan keragaman suku bangsanya dan sudah menjadi ciri khas dari negara beribu pulau ini.

Ternyata masyarakat berbagai negara di dunia juga ber suku-suku. Salah satunya memiliki banyak yang tersebar di segala penjuru tanah arab.

Pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam pun tercatat beberapa suku besar di jazirah Arab. Menurut Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, suku-suku bangsa itu terbagi dalam tiga kaum Arab yang dikelompokkan berdasarkan garis keturunan asal mereka.

Tiga kaum itu yakni Arab Ba'idah, kaum Arab kuno yang sudah punah sehingga sulit dilacak rincian sejarahnya seperti kaum ‘Ad, Tsamud, Judais, dan Imlaq.

Kemudian Arab Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan atau yang disebut Arab Qahthaniyah.

Dan Arab Musta'ribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Nabi Ismail yang disebut Arab Adnaniyah. Dari kaum Arab Aribah dan Arab Musta'ribah, terdapat beberapa kabilah yang melahirkan sejumlah anak-anak kabilah atau suku-suku di jazirah itu.

Suku-suku bangsa Arab juga memiliki berbagai cerita dan kisah yang unik, menarik hingga mencengangkan. Mulai dari suku yang sempat melawan Rasulullah, menguasai Kakbah dan bahkan ada yang pernah menimbun sumur zam zam.

Berikut 7 Suku yang dikutip dari sejumlah sumber : 

Quraisy

Quraisy merupakan salah satu keturunan Ibrahim yang terkuat. Quraisy sempat menjadi kaum dengan derajat tertinggi dibandingkan suku-suku lain di seluruh Arab karena menjadi penjaga Rumah Suci Ka'bah.

Awal mula Quraisy menempati Mekkah yakni setelah seorang lelaki suku itu, Qushay, menikah dengan anak Hulail, pemimpin Khuza'ah.

Qushay lalu menggantikan Hulail menjadi pimpinan Mekkah dan penjaga Ka'bah setelah Hulail meninggal dunia.

Selama periode itu, kerabat dekat Qushay tinggal di Mekkah, dekat Rumah Suci, hingga seluruh keturunannya dikenal sebagai kaum Quraisy Lembah. Sementara kerabat jauh Qushay tinggal di daerah luar kota sekeliling Mekkah dan dikenal sebagai Quraisy Pinggiran.

Suku Aus dan Khazraj

Merupakan dua suku keturunan Ismail yang membentuk kaum Anshar. Dua suku ini sempat bersekutu dengan beberapa suku yang tinggal di sekitar mereka di Yatsrib alias Madinah.

Aus dan Khazraj punya hubungan yang terus bersitegang. Mereka kerap berselisih hingga suatu hari terjadi pertempuran yang berujung pada pertumpahan darah.

Melihat hal ini, para pemimpin Aus pun berencana mengirim delegasi ke Mekkah untuk meminta bantuan dari kaum Quraisy demi melawan Khazraj.

Namun Quraisy menolak permohonan bantuan tersebut hingga Aus pulang dengan tangan kosong ke Madinah. Kedua suku yang masih berkerabat ini pun dipersatukan oleh Nabi Muhammad melalui Piagam Madinah.

Lewat piagam itu, keduanya menjadi satu dan bersama-sama masuk Islam. Setelah menjadi Muslim, suku bangsa ini pun disebut sebagai kaum Anshar.

Bani Qaynuqa

Merupakan salah satu dari tiga bangsa Yahudi yang sangat memusuhi Islam bersama dengan kaum Nadhir dan Quraizhah.

Qaynuqa sangat tidak senang dengan kabar kemenangan Islam dalam Badar. Setelah pulang dari Perang Badar, Nabi Muhammad sempat menemui kaum Qaynuqa di sebuah pasar di sebelah selatan Madinah.

Kala itu, Nabi Muhammad berharap Perang Badar dapat mengubah hati mereka dan mengingatkan mengenai azab jika kaum tersebut membuat Allah murka.

Namun dengan penuh kesombongan, Qaynuqa mengklaim bakal memenangkan perang jika mereka melawan pasukan Rasulullah.

Suatu ketika, terjadi perselisihan yang mengakibatkan pertumpahan darah antara pria Muslim dan pria Yahudi. Keluarga pria Muslim menuntut balas dendam dan meminta kaum Anshar melawan orang Qaynuqa.

Kaum Qaynuqa lantas meminta bantuan sekutu dari Khazraj yakni Bin Ubayy dan Ubadah bin Shamit. Mereka percaya bala bantuan dari sekutu-sekutunya itu bisa membuat mereka meraih kemenangan.

Akan tetapi, bantuan tak kunjung datang. Sebab Ubadah tak mau melanggar janji yang telah dibuat bersama Nabi Muhammad yakni menjaga perdamaian dengan Muslim.

Sementara Bin Ubayy, yang punya hubungan kuat dengan Qaynuqa, ditolak oleh Rasulullah kala memohon kepada sang Nabi untuk memperlakukan kaum Qaynuqa dengan baik.